(Review) Alita: Battle Angel

0
638

Wisataku.id Sinema – Sejauh ini film adapsi dari sebuah Komik Manga ialah hasil dari produksi Jepang atau Korea. 20Th Century Fox pernah menggarap salah satu film besutan manga dan anime ialah “Dragonball Evolution (2009)” yang mendulang keburukan. Ibarat seorang Mantan film “Dragonball Evolution (2009)” pada saat itu “bak mantan yang tidak perlu dikenang” enyahlah jerawat setengah matang.

20Th Century Fox
Dok. 20Th Century Fox

Mungkin bagi segelintir orang asing dengan nama Robert Rodriguez, ialah merupakan salah satu sutradara dibalik film “Spy Kids (2001)” dan “Sin City (2005)”. Berbeda dengan James Cameron, dua judul film garapannya yang pertama mendulang sebuah kesuksesan cermelang adalah “Titanic (1997)” dan “Avatar (2009)”. Sedangkan pada film terbarunya ini “Alita: Battle Angel” yang diadaptasi dari animasi manga ikonik “Battle Angel Alita (1990) karya Yukito Kishiro.

James Cameron mengawinkan antara kedua sineas besar ini. “Alita: Battle Angel” adalah sebuah film fiksi yang outstanding, sci-fi, faction movie genre yang mempunyai keindahan materi cinematography yang berilian dan menakjubkan. Dimana pada saat diluncurkan Trailernya saja kita sudah berdecak kagum, dan penasaran dengan film “Alita: Battle Angel”. Tapi jangan terburu-buru untuk menilai film ini, sempurna.

Dok. 20Th Century Fox

Film “Alita: Battle Angel” mempunyai segi cerita dan plot yang multiple plot. Terkadang penonton akan terbawa dan terdistract dengan story yang berpindah-pindah kesana kemari. Mulai dari alita yang menjadi pembunuh, pemburu hadiah, jatuh cinta, ikut liga olahraga cyborg dan cerita mengungkap tentang keberadaan dirinya.

Secara sederhannya film “Alita: Battle Angel” mempunyai storyline yang episoding. James Cameron dan Laeta Kalogridis sama sekali tidak menghilangkan storyline asli pada serial animenya, namun twist dan plot yang disuguhkan pada “Alita: Battle Angel” terlalu tergesah-gesah.

Dok. 20Th Century Fox

Dengan anggaran biaya produksi sebasar $200USD Juta, layaknya sebuah film “Avatar (2009)” perpaduan CGI dan live actionnya memberikan suguhan visual yang tidak cacat. Tontonlah dalam format IMAX atau UltraXD dan Dolby Atmos Sound, yang dimana kamu akan lelah dan susah untuk mencari celah dimana jeleknya. Walaupun ada sedikit twist dan plot yang seharusnya tidak dihilangkan.

Krisis essential ditengah cerita aslinya film “Alita: Battle Angel” ada beberapa plot yang dirasa krusial yang diselesaikan sangat begitu cepat dan singkat seakan dikejar batesnya durasi penayangan sehingga film “Alita: Battle Angel” tidak mempunyai sumber materi yang cerdas.

Sedangkang untuk pertokohan karakter antara Alita dan Dr. Dyson Ido yang masing-masing terasa sangat show off dengan kelihainnya beradu akting yang indah. Walaupun agak sangat disayangkan salah satu karakter yang dibawakan oleh Christoph Waltz tidak begitu tergambarkan sebagai mentor dan sosok seorang ayah untuk Alita.

Dok. 20Th Century Fox

Tapi, Untuk aktingnya Rosa Salazar dalam memerankan sosok Alita Gourjouse. Walaupun mesti film “Alita: Battle Angel” kurang mampu berada dilevel terbaiknya dalam menerjemahkan jepang manga Yukito Kishiro, tetapi film “Alita: Battle Angel” berhasil menjadi penyegaran film pada awal tahun 2019 untuk genre action suguhan CGI yang megah dan berilian.

Robert Rodriguez selama ini lebih sering beraksi masuk dalam low budget action movie, “Alita: Battle Angel” merupakan salah satu big budget film pertamanya sepanjang berkarir di film Hollywood yang dengan sukses membuktikan bahwa Robert Rodriguez sebenarnya adalah sutradara action yang mampuni.

20Th Century Fox
Dok. 20Th Century Fox

World building film “Alita: Battle Angel” bahkan beberapa tingkat lebih baik dari “Mortal Engines (2018)” tahun lalu. Di bangun dengan detail yang amat memukau, dengan kombinasi warna yang teduh dan jauh sekali dari kesan lebay, walaupun ada beberapa adegan saat kaca pecah masih terbilang sangat palsu.

Tetapi memang sangat sulit untuk tidak berdekcap kagum bahkan tergugah dalam salah satu adegan Underwater yang tidak ragu-ragu patut untuk di apresiasikan sebagai adegan terbaik pada awal tahun ini. Robert Rodriguez sendiri sama sekali terlihat tidak kesulitan untuk menyatukan berbagai elemen-elemen action, keluarga, duka, dan kisah romansa yang menyentuh.

Dok. 20Th Century Fox

Harus diakui tanpa directing lihai Robert Rodriguez dan  visual effect yang mutahir film “Alita: Battle Angel” tidak menawarkan apa-apa terkecuali mash up film-film seperti, “Blade Runner 2049 (2017)“, “The Hunger Games (2012)“, bahkan “Transformers (2007)“. Dimana kekurangan aspek original, ambisius tapi tidak bertanggung jawab, serta kehilangan momentum untuk mencapai klimaks yang diharapkan dalam department aksi. Bahkan mungkin patut untuk dibenci karna tidak memberikan sedikit kehormatan pada sumber aslinya ketika film “Alita: Battle Angel” ini dipoles dengan sedemikian rupa citra rasa Amerika bahkan Latin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.