Kini tiba saatnya membahas mengenai Kawah Sikidang, sebuah pesona alam berbalut legenda mistis. Dataran tinggi Dieng terletak di kabupaten Wonosobo dan kabupaten Banjarnegara, kedua tempat ini memang berdekatan sehingga dataran tinggi ini terbagi dalam dua wilayah. Anda bisa datang ke sana melalui jalur Kebumen-Wonosobo atau via Banjarnegara. Pariwisata Jawa Tengah memang telah digembar-gemborkan sejak pencetusan ide Jateng Visit 2013 lalu dan hingga kini jumlah pengunjung ke Pariwisata di Jawa Tengah terus mengalami peningkatan. Salah satu daerah yang banyak menyedot wisatawan adalah dataran tinggi Dieng yang mana setiap tahunnya mampu menyedot ribuan wisatawan domestik dan mancanegara.

Kawah Sikidang merupakan salah satu obyek wisata di dataran tinggi Dieng yang berupa kawah. Bisa dibilang kawah yang satu ini unik dibandingkan kawah-kawah lainnya karena berbeda dari kebanyakan kawah di daerah lain. Jika kawah kebanyakan di daerah lain terdapat di puncak gunung sehingga untuk melihatnya Anda harus naik gunung terlebih dahulu maka kawah ini terletak di dataran, Anda tidak perlu mendaki gunung terlebih dahulu. Sama seperti kawah yang lain, kawah ini pun selalu mendidih dan mengeluarkan gas berbau belerang. Maka jangan heran jika berada di dekat kawah ini membuat badan Anda terasa lebih hangat, apalagi dataran tinggi Dieng terkenal dinginnya.

Sejarah Nama Kawah Sikidang

Pemberian nama Kawah Sikidang bukan tanpa alasan. Nama kawah tersebut disebabkan karena semburan gasnya selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, seolah-olah ia melompat bagaikan kijang yang berlarian tanpa henti. Di dataran tinggi Dieng ini, Anda juga bisa melihat kawah lain seperti kawah Candradimuka yang sangat terkenal, kawah Sinila, Kawah Timbang, Kawah Pager KAndang dan Kawah Sipandu, dan Kawah Sikendang. Ada juga Kawah Sileri yang warnanya mirip seperti “leri” yang berarti air terjun. Sikidang ini merupakan kawah yang cukup luas karena memiliki luas 200 m2.

Cerita mengenai Kawah Sikidang tidak lepas dari legenda rakyat setempat. Konon dahulu ada seorang pangeran bernama Pangeran Sikidang Garungan. Ia melamar seorang putri cantik bernama Shinta Dewi. Awalnya sang putri tidak menolak dan bersedia dilamar namun setelah mengetahui bahwa pangeran yang dimaksud tidak setampan yang ia bayangkan karena ternyata pangeran Sikidang Garungan berbadan besar dan berkepala kijang. Suatu ketika si putri memberi syarat kepada pangeran untuk membuat sumur yang sangat besar. Namun saat pangeran sedang membuatnya dan masih berada di dalam tanah, sumur itu ditimbun dan ditutup oleh sang putri. Ketika itu, konon sang pangeran yang berusaha dengan keras keluar dari sumur dengan segala kekuatannya membuat sumur tersebut menjadi bergetar, bergerak dan menjadi panas.

Sayangnya sang putri dan pengawalnya tidak mau menyerah dan terus menimbunnya. Alhasil pangeran Sikidang marah, walaupun ia tetap tenggelam dan terkubur di dalamnya. Sebelum terkubur dalam-dalam ia sempat mengutuk sang ratu bahwa kelak anak keturunannya akan berambut gimbal atau gembel. Kisah ini pula yang menjadi awal mula banyaknya anak rambut gimbal di sana. Tapi kenyataannya sekarang, keberadaan anak-anak gimbal atau gembel ini juga menjadi daya tarik wisatawan. Setiap tahun pemerintah kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan Dieng Culture Festival (DCF) yang mana salah satu acaranya adalah pemotongan rambut anak gimbal.

Pemotongan rambut anak gimbal menjadi magnet pariwisata Dieng. Festival tersebut diselenggarakan selama beberapa hari pada bulan Agustus dan selalu tiket yang dijual ludes terbeli. Uniknya, rambut gimbal atau gembel pada anak-anak ini hanya bisa dibuang ketika sang anak mau memotongnya. Jadi, jika si anak meminta syarat harus dipenuhi dahulu supaya anak mau memotongnya. Inilah sekelumit cerita tentang pesona Kawah Sikidang dan legenda masyarakat setempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.